Ketika seseorang memiliki anggaran sekitar Rp800 jutaan, pilihan umumnya adalah membeli sebuah sedan premium bermesin bensin atau beralih ke Hyundai IONIQ 5.
Banyak orang hanya membandingkan harga beli, padahal biaya kepemilikan selama bertahun-tahun jauh lebih menentukan. Artikel ini menggunakan simulasi sederhana berdasarkan penggunaan normal sejauh 160.000 km (sekitar lima tahun dengan rata-rata 32.000 km per tahun). Angka yang digunakan merupakan estimasi agar mudah dipahami dan dapat berbeda sesuai gaya berkendara, tarif energi, serta kebijakan pajak di daerah masing-masing.
Sedan premium bermesin bensin dengan konsumsi sekitar 12 km/liter membutuhkan sekitar 13.333 liter BBM atau sekitar Rp173 juta untuk menempuh 160.000 km. Sebaliknya, Hyundai IONIQ 5 dengan konsumsi sekitar 6 km/kWh membutuhkan sekitar 26.667 kWh listrik atau sekitar Rp45 juta jika mayoritas pengisian dilakukan di rumah.
Selisih biaya energi saja mencapai sekitar Rp128 juta.
Mobil bermesin bensin membutuhkan penggantian oli mesin, filter, busi, oli transmisi,dan berbagai komponen berkala lainnya. Mobil listrik memiliki komponen bergerak yang lebih sedikit sehingga perawatan rutin lebih sederhana. Di beberapa daerah, kendaraan listrik juga memperoleh insentif pajak sehingga total biaya kepemilikan menjadi lebih rendah.
Dengan asumsi di atas, Hyundai IONIQ 5 berpotensi menghemat sekitar Rp180–190 juta selama penggunaan 160.000 km dibanding sebuah sedan premium bermesin bensin di kelas harga yang sama. Selain penghematan biaya energi dan servis, IONIQ 5 juga menawarkan pengalaman berkendara yang senyap, akselerasi instan, teknologi keselamatan Hyundai SmartSense, serta kemudahan pengisian daya di rumah. Meski demikian, hasil aktual tetap dipengaruhi oleh tarif listrik, harga BBM, kebijakan pajak, dan pola penggunaan masing-masing pemilik.
Ingin merasakan langsung Hyundai IONIQ 5?
Hubungi Elfitry Hyundai Serpong
WhatsApp: 0815-1022-6897


